BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Zoonosis merupakan penyakit yang menular
dari ternak ke manusia atau sebaliknya dari manusia ke ternak. Konsumen produk
hewani, termasuk didalamnya konsumen daging dewasa ini sangat berhati-hati
dalam memilih bahan pangan.
Produk hewani terutama daging memiliki
harga yang tinggi dibanding dengan produk pangan lainnya. Oleh sebab itu wajar
jika konsumen menuntut kualifikasi lebih pada produk asal hewani ini. Disamping
keunggulannya sebagai bahan pangan, daging juga mempunyai banyak kelemahan,
misalnya bila daging berasal dari ternak yang menderita penyakit yang dapat
ditularkan ke manusia, maka daging tersebut merupakan mediator yang bagus untuk
menyebarnya penyebab penyakit ke tubuh manusia.
Dalam rangka mengendalikan penyakit
menular dan juga menyediakan daging yang Aman, Sehat dan Utuh yang dikenal
dengan daging ASUH maka ada beberapa perlakuan terhadap ternak baik sebelum
maupun sesudah dipotong. Salah satunya yaitu ternak di tempatkan atau di karantina
sebelum proses pemotongan di rumah pemotongan ayam.
b. Tujuan
a. Mengetahui pentingnya karantina ternak
sebelum pemotongan di RPA
b. Mengetahui pengaruh transportasi terhadap
penyusutan bobot badan ternak yang akan dipotong
c. Manfaat
a. Sebagai informasi bagi mahasiswa
peternakan tentang pentingnya karantina ayam sebelum proses pemotongan.
b. Menambah wawasan bagi mahasiswa untuk
bahan penelitian selanjutnya
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Rumah Potong Unggas (RPA)
adalah kompleks bangunan dengan desain dan kontruksi khusus yang memenuhi
persyaratan teknis dan higien tertentu serta digunakan sebagai tempat memotong
unggas bagi konsumsi masyarakat umum (SNI 01-6160-1999). Sedangkan unggas
potong menurut SNI 01-6160-1999 merupakan detiap jenis burung yang diternakan
dan dimanfaatkan untuk pangan, termasuk ayam, bebek, kalkun, angsa, burung dara
dan burung puyuh.
Daging ayam broiler merupakan
sumber pangan hewani yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Menurut Murtidjo
(2006), ayam broiler adalah istilah untuk menyebut strain ayam hasil budidaya
teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis, dengan ciri khas pertumbuhan
cepat sebagai penghasil pedaging, konversi pakan irit, siap dipotong pada usia
relatif muda, dan menghasilkan mutu. Selain itu daging ayam broiler mudah
diperoleh dan harganya pun cenderung lebih terjangkau oleh masyarakat, serta
dagingnya pun mudah diolah menjadi berbagai masakan sehingga banyak digunakan
dalan rumah tangga maupun rumah makan.
Salah satu tempat permintaan
daging ayam broiler adalah rumah potong ayam (RPA). Peningkatan frekuensi
maupun kuantitas permintaan ayam hidup maupun berbentuk karkas termasuk salah
satunya perdagangan ayam ras terus terjadi pada era perdagangan global. Keadaan
tersebut berdampak pada tingginya risiko masuk terbawa dan tersebarnya hama dan
penyakit ternak ke karantina dari suatu wilayah ke wilayah lain, termasuk karantina
di rumah potong ayam, sehingga menuntut kesiapan fungsi Karantina ternak yang
ada di RPA yang merupakan garda terdepan dalam pencegahan dan penolakan
penyakit. Selain risiko atas penyakit yang mungkin masuk ke RPA, maka perlu
diperhatikan juga pengawasan terhadap ternak yang masuk ke RPA, dimana hal ini
berkaitan dengan jaminan terjaganya kualitas kesehatan ternak dalam rangka
menjamin kepercayaan konsumen terhadap karkas yang dihasilkan dari rumah
pemotongan ayam tersebut.
Ternak yang baru diterima atau
baru dibeli sebelum dimasukkan kedalam kandang untuk dipemeliharan sebaiknya
dikarantina terlebih dahulu. Karantina merupakan tempat pengasingan atau
tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau
organisme pengganggu dari luar wilayah yang tempat pemotongan ayam tersebut. Karantina
ternak bertujuan untuk mengetahui apakah ternak yang baru dibeli atau ternak
yang baru diterima ada yang sakit atau tidak. Seandainya ada ternak yang dalam
kondisi sakit ataupun ternak dalam kondisi turun ketahanan tubuhnya, bisa langsung
ditangani dan diobati agar cepat sembuh dan pulih kondisi ketahanan tubuhnya
sebelum di masukkan kedalam kandang bersama dengan kelompok ternak yang lain.
Saat ini proses karantina
ternak yang berada di sebuah RPA banyak yang tidak mementingkan kesejahteraan
hewan. Kesejahteraan hewan merupakan usaha yang dilakukan manusia untuk
memelihara hewan ternak yang meliputi kelestarian hidupnya disertai dengan
perlindungan yang wajar. Adanya isu yang mengenai kesejahteraan hewan ternak
khususnya ayam potong merupakan salah satu hambatan dalam proses perdagangan
bebas yang berada di pasaran. Isu tersebut seperti banyaknya pengiriman hewan
ternak yang tidak dilakukan dengan prinsip kesrawan, merupakan hal yang
memberikan banyak keburukan bagi hewan ternak, bahkan lebih jauh lagi berdampak
dalam keberlanjutan usaha bagi industri peternakan sebagai akibat dari
kehilangan atau kerugian dari produksi ternak tersebut.
Untuk itu peran karantina di
sebuah RPA yaitu tempat dimana untuk mencegah masuknya dan tersebarnya hama dan
penyakit atau organisme pengganggu dari luar wilayah yang tempat pemotongan
ayam tersebut. Sebelum ternak ayam dipotong, karantina berperan dalam memeriksa
kondisi ayam yang akan dipotong. Pemeriksaan tersebut seperti pemeriksaan
antemortem dimana Pemeriksaan ante mortem adalah pemerikssaan yang dilakukan
sebelum hewan dipotong. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah membedakan hewan
yang berpenyakit menular, hewan yang berpenyakit tapi tidak menular maupun
hewan yang sehat.
Pemeriksaan ini juga diharapkan
dapat mengetahui ada atau tidaknya gejala abnormal pada hewan yang akan
disembelih tersebut, memberikan kesempatan kepada hewan untuk beristirahat
sehingga dapat memberikan kualitas daging yang lebih baik, mencegah kemungkinan
terkontaminasinya daerah pemotongan, kontaminasi peralatan, personal, asal
hewan sakit dan sebagai informasi bagi keperluan pemeriksaan selanjutnya,
diagnosa serta pengambilan keputusan terhadap karkas yang akan diamati dan
diperiksa oleh petugas yang berwenang di RPA tersebut. Hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah mengidentifikasi dan menyingkirkan pemotongan ternak-ternak
yang terkontaminasi/terserang penyakit terutama penyakit yang dapat menulari
manusia yang mengkonsumsinya.
Selain itu masalah ternak
selama proses transportasi mempengaruhi penyusutan bobot badan ternak ayam
sebelum sampai ke RPA. Semakin lama ternak
ayam berada di jalanan selama
proses distribusi, hampir pasti makin banyak pula risiko yang ditanggung,
termasuk penyusutan bobot. Mengirimkan
ternak ayam dari daerah tidak sama dengan mendistribusikan barang konsumsi. Hal
ini disebabkan ada risiko-risiko alam yang tidak bisa diprediksi. Seperti ayam
stres atau mati. Walaupun di tiap titip daerah ada semacam karantina untuk
memastikan kesehatan ternak, tetap saja risiko itu tak bisa hilang seratus
persen. Penyusutan bobot badan selama transportasi diakibatkan oleh :
o
Hal
ini dapat terjadi karena ayam mengeluarkan kotorannya selama perjalanan dan
susutnya air tubuh melalui penguapan sebagai akibat suhu lingkungan yang panas.
Oleh karena itu apabila waktu pengangkutan ayam merasa kepanasan dan stres,
sebaiknya diberi percikan air untuk mengurangi cekaman panas. Kematian ternak
selama transportasi, umumnya terjadi karena crates atau keramba ayam diisi
terlalu padat
o
Kondisi
ayam yang kurang sehat
o
Kepanasan
waktu transportasi
o
Penanganan
yang kurang baik waktu perjalanan
Selain itu masalah yang
ditimbulkan yaitu adanya kerusakan bagian-bagian tubuh. Persentase kerusakan
bagian tubuh yang paling besar yaitu waktu terjadi transportasi yang kurang
hati-hati. Kerusakan bagian tubuh secara keseluruhan biasanya sekitar 9 – 12%
untuk sekali pengangkutan. Pada saat menyekat ruangan kandang sebaiknya
disesuai dengan jumlah ayam yang akan ditangkap atau dipanen. Sebagai contoh: apabila
dalam satu kandang kapasitas ayamnya sebanyak 5.000 ekor dan yang akan
ditangkap atau dijual hanya 1.000 ekor, maka dalam memasang kawat atau pagar
penyekat hanya untuk ayam 1.000 ekor saja. Hal ini bertujuan untuk menghindari
agar ayam tidak merasa stres selama di transportasi maupun di karantina.
BAB III
KESIMPULAN
o
Rumah
Potong Ayam merupakan salah satu tempat permintaan daging ayam yang frekuensi
permintaan terhadap daging semakin meningkat. Permintaan yang meningkat akan
meningkatkan resiko terbawanya atau tersebarnya penyakit ternak ke rumah
pemotongan ayam
o
Fungsi
karantina pada RPA sebagai pencegah masuk dan tersebarnya hama dan penyakit
atau organisme pengganggu dari luar wilayah yang tempat pemotongan ayam
o
Penyusustan
bobot badan yang terjadi selama proses transportasi dikarenakan oleh ayam
mengeluarkan kotorannya selama perjalanan dan susutnya air tubuh melalui
penguapan sebagai akibat suhu lingkungan yang panas, Kondisi ayam yang kurang
sehat, kepanasan waktu transportasi, penanganan yang kurang baik waktu
perjalanan
DAFTAR
PUSTAKA
http://
Bisakah
Mewujudkan Transportasi Ternak yang Berwawasan Kesejahteraan Hewan _ Livestockreview.html
htt[://RPA/Transportasi
Ternak Harus Perhitungkan Risiko Susut Berat Badan _ Livestockreview.html
Murtidjo, B. A. 2006. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius, Yogyakarta
Standar Nasional Indonesia. SNI
01-6160-1999.